Beranda » VI.2. Potensi Maksimum Sumber Daya

VI.2. Potensi Maksimum Sumber Daya

Konsep ini didasarkan pada pemahaman untuk mengetahui potensi atau kapasitas sumber daya guna menghasilkan barang dan jasa dalam jangka waktu tertentu.  Pengukuran ini biasanya didasrkan pada perkiraan-perkiraan ilmiah atau teoritis.  Misalnya diperkirakan bahwa bumi mempunyai kapasitas untuk memproduksi sekitar 40 ton pangan per orang per tahun (Rees, 1990). Pengukuran potensial maksimum lebih didasarkan  kemampuan biofisik alam tanpa mempertimbangkan kendala sosial ekonomi yang ada.

 

Kapasitas lestari atau produksi lestari (Sustainable Yield) adalah konsep pengukuran keberlanjutan dimana ketersediaan  sumber daya diukur berdasarkan kemampuannya untuk menyediakan kebutuhan bagi generasi kini dan juga generasi yang akan datang.  Berkait dengan sumber daya ikan misalnya, konsep ini dikenal sebagai Sustainable Yield dimana secara teoritis, alokasi produksi dapat dilakukan sepanjang waktu jika tingkat eksploitasi dikendalikan.  Demikian juga pada sumber daya air, produksi lestari (Sustainable Yield) secara teoritis dapat dicapai  jika laju pengambilan (pumping rate) tidak melebihi rata-rata penurunan debit air tahunan.

 

Kapasitas Penyerapan (Absorptive Capacity) atau kapasitas asimilasi adalah kemampuan sumber daya alam dapat pulih (misalnya air, udara) untuk menyerap limbah akibat aktifitas manusia. Kapasitas ini  bervariasi akibat faktor eksternal seperti cauaca dan intervensi manusia.

 

Kapasitas Daya Dukung (Carrying Capacity) didasarkan pada pemikiran bahwa lingkungan memiliki kapasitas maksimum untuk mendukung suatu pertumbuhan organisme.  Misalnya ikan di kolam tumbuh secara positif jika daya dukung lingkungan masih lebih besar. Namun pertumbuhan  yang terus menerus akan menimbulkan kompetisi terhadap ruang dan makanan sampai daya dukung lingkungan tidak mampu lagi mendukung pertumbuhan.

 

Salah satu aspek krusial dalam pemahaman terhadap sumber daya alam adalah memahami juga kapan sumber daya alam  tersebut akan habis. Jadi, bukan hanya konsep persediaannya yang harus kita pahami, melainkan juga konsep pengukuran kelangkaannya.  Sebgaimana disampaikan pada bagian pandangan terhadap sumber daya alam , aspek kelangkaan ini menjadi sangat penting karena dari sinilah kemudian muncul persoalan  bagaimana mengelola sumber daya alam yang optimal.

 

Secara umum, biasanya kelangkaan sumber daya alam diukur secara fisik dengan menghitung sisa umur ekonomis.  Hal ini dilakukan  dengan menghitung cadangan ekonomis yang tersedia dibagi dengan tingkat ekstraksi.  Pengukuran dengan cara ini tentu saja memiliki banyak kelemahan karena tidak mempertimbangkan sama sekali aspek ekonomi di dalamnya.  Aspek ekonomi ini antara lain menyangkut harga dan biaya ekstraksi.  Sebagai contoh, ketika sumber daya menjadi langka, maka harga akan naik dan konsumsi berkurang.  Dengan berkurangnya konsumsi, ekstraksi juga berkurang sehingga faktor pembagi dalam pengukuran fisik diatas menjadi kecil.  Hal ini bisa menimbulkan kesimpulan yang keliru karena seolah-olah sisa ekonomis sumber daya kemudian menjadi panjang dan sumber daya alam tidak lagi menjadi langka.

 

Menyadari akan kelemahan pengukuran fisik ini, Hanley et,al, (1997) misalnya menyarankan  untuk menggunakan pengukuran moneter dengan cara menghitung harga riil, unit cost, dan rente ekonomi dari sumber daya

 

VI.2.1.   Pengukuran berdasarkan harga riil

 

Pengukuran kelangkaan yang didasarkan pada harga riil sudah merupakan pengukuran yang banyak  diterima berbagai pihak dan merupakan standar  pengukuran kelangkaaan dalam ilmu ekonomi.  Berdasarkan standar ekonomi klasik, ketika barang menjadi berkurang kuantitasnya, maka konsumen mau membayar dengan harga mahal untuk komoditas tersebut.  Jadi tingginya harga barang dari sumber daya mencerminkan  tingkat kelangkaan dari sumber daya tersebut.  Meski diterima sebagai pengukuran umum kelangkaan sumber daya, pengukuran dengan harga riil juga memiliki kelemahan.

 

Distorsi pasar yang diakibatkan oleh intervesi pemerintah, misalnya bisa saja menyebabkan harga sumber daya naik.  Sebagai contoh kenaikan BBM yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengurangi subsidi menyebabkan harga BBM naik, tapi harga ini bukan karena produksi yang berkurang melainkan karena intervensi pemerintah.  Kedua, harga output dari sumber daya alam hanya mencerminkan harga pasar, namun tidak mencerminkan  biaya opertunis sosial dari kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh ekstraksi sumber daya alam itu sendiri.  Selain itu penggunaan deflator  untuk mengukur harga riil juga sering menjadi pertanyaan :  apakah harga output  sumber daya atau harga indeks kenaikan harga secara umum (consumer price index) yang digunakan sebagai  deflator.

 

VI.2.2.  Pengukuran berdasarkan unit cost

 

Pengukuran yang  menggunakan unit cost atau biaya per unit output (input) didasarkan pada prinsip bahwa jika sumber daya mulai langka, biaya untuk mengekstraksinya juga menjadi semakin besar.   Sebagi contoh jika nelayan  mulai menyadari bahwa ikan sudah mulai susah ditangkap, ia harus melaut ke daerah yang lebih jauh yang menyebabkan biaya tenaga kerja per produksi meningkat.

 

Salah satu contoh klasik pengukuran unit cost  adalah apa yang dilakukan oleh Barnet dan Morse (1963) yang mengukur kelangkaan sumber daya berdasarkan  index of real unit cost.  Hasil studi  barnet dan Morse misalnya tidak menunjukkan adanya kelangkaan sumber daya kecuali untuk sumber daya hutan.  Salah satu kelebihan  dari penggunaaan pengukuran ini adalah dimasukkanya aspek perubahan teknologi dalam produksi.  Jika perubahan teknologi memungkinkan  produksi lebih efisien, biaya produksi akan menurun sehingga kecendrungan penurunan kelangkaan  ditunjukkan oleh kecendrungan penurunan unit biaya .

 

Dengan kata lain  peningkatan kelangkaan sumber  daya dapat diukur dengan peningkatan  indeks  dari real unit cost. Meski pengukuran ini sangat logis, ada beberapa catatan  yang harus diperhatikan.  Yang pertama adalah menyangkut kesulitan pengukuran kapital yang dipicu oleh perkembangan teknologi produksi.  Kondisi ini muncul  karena sulitnya mengagregasikan  kapital untuk memperoleh unit pengukuran kapital yang tepat.  Kedua, pengukuran unit cost juga bisa keliru jika aspek substitusi terhadap input  tidak diperhatikan.  Substitusi  ini sering manakala biaya satu jenis input  lebih mahal sehingga pelaku akan menggantikanya dengan iput yang lain.   Ketiga sebagaimana dikatakan oleh Haley et, al, (1997),  unit cost lebih didasarkan pada informasi masa lalu,jadi bukan  forward looking, seperti melihat perkembangan teknologi dan sebagainya.

 

VI.2.3.  Pengukuran berdasarkan  Rente Kelangkaan  (scarcity rent)

 

Pengukuran  kelangkaan dengan scarcity rent  berdasarkan pada teori kapital sumber daya, dimana rate of return  manfaat yang diperoleh dari aset sumber daya alam, harus setara dengan biaya oportunis dari aset yang lain, seperti saham.  Dengan demikian , peningkatan nilai scarcity rent menunjukkan tingkat kelangkaan  sumber daya alam.  Scarcity rent didefinisikan sebagai selisih antara harga per unit output  dengan biaya ekstraksi marginal  atau sering juga disebut sebagai net price.   Prinsip dari konsep ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pengukuran berdasarkan harga riil, hanya saja yang diukur  di sini adalah harga bersih atau net price.

 

Selain konsep ekonomi dan fisik, pengukuran kelangkaan sumber daya juga dapat didekati dari interaksi antara ketersediaan sumber daya (terbatas atau tidak) dan biaya ekstraksi sepanjang waktu.  Dengan adanya keterkaitan ini, Hall dan Hall (1984) melihat bahwa ada empat tipe pengukuran kelangkaan, yakni  Malthusian  Stock Scarcity,  Malthusian Flour Scarcity,  Ricardian Stock Scarcity,  dan Ricardian Flour Scarcity.  Keempat konsep tersebut dapat digambarkan pada bagan berikut ini.

 

Gambar 18.  Konsep Pengukuran Sumberdaya Alam

Malthusian  Stock Scarcity adalah kelangkaan yang terjadi pada stock dianggap tetap (terbatas) dan biaya ekstraksi perunit pada setiap periode tidak bervariasi terhadap laju ekstraksi pada periode tersebut.

 

Malthusian  Flow Scarcity adalah kelangkaan yang terjadi akibat interakswi antara stok yang terbatas dan biaya ekstraksi perunit yang meningkat seiring dengan laju ekstraksi pada setiap periode.

 

Ricardian Flow Scarcity adalah tipe kelangkaan yang terjadi jika stok  sumber daya dianggap tidak terbatas, namun biaya ekstraksi tergantung pada laju ekstraksi pada periode 1, dan juga ekstraksi komulatif sampai pada periode akhir ekstraksi.

 

Ricardian Stock Scarcity adalah merupakan kelangkaan yang terjadi dimana stok dianggap tidak terbatas berinteraksi dengan biaya ekstraksi yang meningkat seiring dengan ekstraksi komulatif sampai periode akhir.Keterkaitan antara Sumber Daya Alam dan Ekonomi

 

Sebagaimana  dikemukan terdahulu, sumber daya alam merupakan faktor input dalam kegiatan ekonomi.  Namun demikian, pengertian sumber daya tersebut tidak terbatas sebagai faktor input saja karena proses produksi juga akan menghasilkan output (misalnya limbah) yang kemudian menjadi input bagi kelangsungan  dan ketersediaan sumber daya alam.  Keterkaitan sumber daya alam dan aktivitas ekonomi dapat dilihat pada bagan berikut:

Gambar 19.  Keterkaitan Sumberdaya Alam dan Aktivitas Ekonomi

Dari bagan tersebut di atas dapat dilihat bahwa sumber daya alam  menghasilkan barang dan jasa untuk proses industri yang berbasis sumber daya alam (I1) maupun yang lansung dikonsumsi rumah tangga (I2).  Dari proses industri dihasilkan barang dan jasa kemudian dapat dipergunakan  oleh Rumah tangga untuk konsumsi (I3). Kegiatan produksi oleh industri dan konsumsi oleh rumah tangga menghasilkan limbah (waste)  yang kemudian dapat didaur ulang (D1 dan D2).  Proses daur ulang ini ada yang langsung kembali ke alam  dan lingkungan (misalnya proses pemurnian kembali air dan udara), juga ada yang kembali ke industri (D2). Seperti pendaur ulangan kertass, botol plastik dan lain sebagainya.  Dari limbah ini sebagian komponen ada yang tidak dapat didaur ulang dan menjadi residual (D3) yang akan kembali ke lingkungan tergantung dari kemampuan kapasitas penyerapan atau asimilasinya.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: